Menjelang Pengumuman Hasil Pemilu, Internet India Tidak Dapat Diakses

Menjelang Pengumuman Hasil Pemilu, Internet India Tidak Dapat DiaksesPemilu di India sempat menjadi buah bibir dunia karena penyelenggaraannya memicu amarah warga. Menjelang hasil pemilu, Google tidak mampu diakses oleh warga. Selama masa pemilihan, masyarakat banyak mendapatkan berita dan informasi yang salah. Google berhenti memberikan hasil pencarian ketika warga berkeinginan untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Mesin pencarian asal Amerika Serikat ini mengalami masalah pada pengindeksan situs web. Hal tersebut dijelaskan langsung oleh perusahaan melalui laman Twitter. Hal tersebut menjelaskan bahwa informasi yang muncul pada saat pengguna ingin mendapatkan sesuatu merupakan berita lama. Berita atau konten terbaru tidak akan muncul pada katalog pencarian Google. Google sendiri berjanji untuk memberikan informasi terkini ketika sistem telah diperbaiki dan muncul pembaruan data.

Multaqa – Sebelum masalah di atas terjadi, pihak berwenang India mengakui bahwa ada pembatasan penggunaan internet. Tujuan dari pembatasan internet tersebut adalah demi menjaga keamanan publik dari main hakim sendiri dan meluasnya kekerasan massa yang sering terjadi saat itu. Juli tahun 2018, ada sekitar 2 ribu orang yang melakukan serangan terhadap sekelompok anak laki-laki. Mereka melakukan penculikan dan melakukan pembunuhan kepada anak-anak yang mereka culik. Kasus penculikan dan pembunuhan tersebut merupakan tindakan persekusi akibat desas-desus yang muncul di media sosial. Masyarakat kemudian mendesak pemerintah untuk memberlakukan peraturan baru guna mengontrol persebaran berita palsu. WhatsApp memberikan respon dengan cara membatasi pengguna dalam menyiarkan dan meneruskan pesan ke grup besar. Langkah yang dilakukan WhatsApp menerangkan kepada warga bahwa pihaknya melarang akun yang mencurigakan.

Menjelang Pengumuman Hasil Pemilu, Internet India Tidak Dapat Diakses

Permasalahan dan penjelasan yang disampaikan oleh Google tentunya berbuntut munculnya amarah warga. Masyarakat India merasa jika mereka dicegah oleh pemerintah dalam mendapatkan berita baru yang berkaitan dengan pemilu negaranya. Banyak kata-kata kasar yang dilontarkan dan ditujukan ke Google oleh masyarakat melalui media sosialnya. Jejak pendapat pemilu menerangkan bahwa koalisi India mampu mempertahankan kekuasaannya. Hasil jejak pendapat tersebut diumumkan pada tanggal 23 Mei 2019 lalu. Survei yang telah diumumkan tersebut dianggap berita palsu oleh partai oposisi. Dengan bantahan dari partai oposisi, kebingungan masa pemilu India semakin memicu marah warga India. Banyak informasi salah yang didapatkan melalui daring dan non daring.

Baca juga : Partai Politik yang Ada di India

Akses terbatas yang didapatkan oleh warga India semakin membuatnya tidak dapat memperoleh informasi benar yang berkaitan dengan hasil pemilu. Munculnya pemberitaan palsu yang tersebar di dunia maya memunculkan kebingungan baru bagi waga selama masa pemilu di India. Tahun 2019 lalu merupakan tahun dimana India menyelenggarakan pemilu akbar di dunia. Pemilu tersebut diikuti oleh 900 warga lebih untuk memberikan suaranya terhadap pemerintah. Pemilu dimulai sejak tanggal 11 April 2019 hingga tanggal 19 Mei 2019. Meskipun pemilihan umum di India ini mengusung kebebasan untuk berpolitik, masyarakat India dibatasi penggunaan akses ke internet.

Selama berhari-hari, masyarakat India tidak mampu mengakses internet guna memberikan suaranya sebagai wujud demokrasi. Selama pemilihan umum dimulai, ada sekitar 30 wilayah di India yang telah melaporkan diri akan keterbatasan akses internet. Pihak berwenang distrik Udhampur dan Srinagar, penangguhan akses internet yang dilakukan merupakan bentuk penjagaan ketertiban dan hukum selama pemilu berlangsung. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga India akan kebebasan internet. Pembatasan internet juga merupakan penghalang dalam pelaksanaan HAM India. Tidak hanya itu, sabotase terhadap akses internet dapat pula menimbulkan kerusakan pada perekonomian India.